
. . .
Saat mulai belajar investasi, kebanyakan orang langsung mengenal saham, reksa dana, atau emas.
Padahal, ada satu instrumen investasi yang juga sangat populer,
terutama bagi investor yang menginginkan pendapatan lebih stabil,
yaitu obligasi.
Konsepnya begini:
Suatu hari, teman Anda ingin membuka usaha. Ia membutuhkan modal sebesar Rp10 juta. Daripada meminjam uang ke bank dengan bunga tinggi, ia menawarkan kepada Anda sebuah kesepakatan.
“Pinjamkan aku Rp10 juta selama tiga tahun. Sebagai gantinya, setiap bulan aku akan membayar imbalan sebesar Rp75.000. Setelah tiga tahun selesai, uang Rp10 juta milikmu akan kukembalikan sepenuhnya.”
Sederhana, bukan?
Sekarang kamu udah paham bagaimana konsep dasar obligasi.
“Emang ada yang mau berhutang macam itu?”
Ada.
Biasanya pemerintah dan perusahaan besar yang butuh modal untuk urusan tertentu.
Menarik?
Melalui artikel ini, Anda akan belajar mengenai obligasi dari nol.
Mulai dari pengertian, cara kerja, alasan pemerintah menerbitkan obligasi, hingga berbagai istilah penting yang wajib dipahami sebelum mulai berinvestasi.
Mari kita mulai dari dasar terlebih dahulu.
. . .
Apa Itu Obligasi?
Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan sebagai cara untuk memperoleh dana dari masyarakat maupun investor.
Ketika Anda membeli obligasi, sebenarnya Anda sedang meminjamkan uang kepada pihak yang menerbitkan obligasi tersebut.
Sebagai imbalannya, penerbit obligasi akan memberikan dua hal.
Pembayaran bunga atau imbal hasil secara berkala (disebut kupon).
Pengembalian seluruh pokok investasi saat masa obligasi berakhir (jatuh tempo).
Karena itu, banyak orang menyebut obligasi sebagai salah satu investasi pendapatan tetap (fixed income).
Artinya:
Anda sudah mengetahui sejak awal berapa besar imbal hasil yang akan diterima, selama penerbit obligasi memenuhi kewajibannya.
. . .
Contoh Kasus Obligasi
Misalnya, Pemerintah Indonesia menerbitkan obligasi dengan ketentuan berikut.
- Nilai investasi: Rp1.000.000
- Kupon: 6% per tahun
- Jangka waktu: 3 tahun
Jika Anda membeli satu obligasi tersebut, maka selama tiga tahun Anda akan menerima pembayaran kupon sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Setelah tiga tahun selesai, pemerintah akan mengembalikan modal awal sebesar Rp1.000.000 kepada Anda.
Dengan kata lain, selama masa investasi Anda memperoleh pendapatan rutin sekaligus mendapatkan kembali modal di akhir periode.
Sudah paham?
. . .
Mengapa Disebut Surat Utang?
Istilah “surat utang” sering membuat orang takut.
Padahal, dalam dunia investasi, surat utang bukan berarti sesuatu yang buruk.
Surat utang hanyalah bukti bahwa:
Anda adalah pemberi pinjaman.
Pemerintah atau perusahaan adalah pihak yang meminjam dana.
Ada perjanjian mengenai besarnya imbal hasil.
Ada tanggal kapan uang harus dikembalikan.
Semua ketentuan tersebut tercantum secara resmi sehingga hak dan kewajiban masing-masing pihak menjadi jelas.
Bukan seperti hutang teman yang tidak tau kapan dibayar. wkwk.
. . .
Siapa Saja yang Bisa Menerbitkan Obligasi?
Tidak semua pihak bisa menerbitkan obligasi.
Secara umum, penerbit obligasi dibagi menjadi dua kelompok besar.
1. Pemerintah
Pemerintah menerbitkan obligasi untuk membiayai berbagai kebutuhan negara, seperti pembangunan jalan, jembatan, rumah sakit, sekolah, hingga proyek infrastruktur lainnya.
Obligasi pemerintah umumnya dianggap memiliki tingkat risiko yang relatif rendah karena pembayaran pokok dan kupon dijamin oleh negara sesuai ketentuan yang berlaku.
2. Perusahaan
Perusahaan juga dapat menerbitkan obligasi ketika membutuhkan dana untuk mengembangkan bisnis.
Misalnya untuk:
- membangun pabrik baru,
- memperluas jaringan usaha,
- membeli mesin produksi,
- melunasi utang lama,
- atau mendanai ekspansi ke wilayah baru.
Sebagai gantinya, perusahaan akan membayar kupon kepada investor sesuai kesepakatan.
. . .
Bagaimana Cara Kerja Obligasi?
Sekarang mari kita pahami prosesnya dari awal hingga akhir.
Langkah 1 – Penerbit Membutuhkan Dana
Pemerintah atau perusahaan membutuhkan dana dalam jumlah besar.
Daripada meminjam seluruhnya ke bank, mereka menawarkan obligasi kepada masyarakat.
Langkah 2 – Investor Membeli Obligasi
Masyarakat membeli obligasi sesuai nominal yang ditawarkan.
Dana tersebut kemudian digunakan oleh penerbit untuk menjalankan berbagai kebutuhan yang telah direncanakan.
Langkah 3 – Investor Mendapat Kupon
Selama masa obligasi berlangsung, investor akan menerima pembayaran kupon secara berkala.
Frekuensinya dapat berbeda-beda tergantung jenis obligasi, misalnya setiap bulan, tiga bulan, enam bulan, atau satu tahun.
Kupon inilah yang menjadi salah satu sumber keuntungan investor.
Langkah 4 – Jatuh Tempo
Ketika masa obligasi berakhir, penerbit akan mengembalikan seluruh pokok investasi kepada investor.
Siklus investasi pun selesai.
. . .
Mengapa Pemerintah dan Perusahaan Menerbitkan Obligasi?
Mungkin muncul pertanyaan.
“Kalau bisa meminjam ke bank, mengapa harus menerbitkan obligasi?”
Jawabannya karena obligasi memiliki banyak keuntungan bagi penerbit.
. . .
1. Mendapatkan Dana dalam Jumlah Besar
Bank tentu memiliki batas dalam memberikan pinjaman.
Sementara melalui obligasi, pemerintah atau perusahaan bisa memperoleh dana dari ribuan bahkan jutaan investor sekaligus.
2. Biaya Pendanaan Lebih Efisien
Dalam kondisi tertentu, biaya menerbitkan obligasi bisa lebih rendah dibandingkan bunga pinjaman bank.
Hal ini membuat obligasi menjadi pilihan pendanaan yang menarik.
3. Membantu Pembangunan Negara
Bagi pemerintah, dana hasil penerbitan obligasi digunakan untuk membiayai berbagai program pembangunan.
Misalnya:
- pembangunan jalan tol,
- bendungan,
- pelabuhan,
- bandara,
- rumah sakit,
- sekolah,
- hingga berbagai proyek strategis nasional.
Artinya:
ketika membeli obligasi pemerintah, Anda bukan hanya berinvestasi, tetapi juga ikut mendukung pembangunan negara.
4. Mendukung Ekspansi Perusahaan
Bagi perusahaan, dana dari obligasi dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas bisnis.
Contohnya:
- membuka cabang baru,
- memperbesar kapasitas produksi,
- melakukan inovasi produk,
- membeli peralatan modern,
- atau memperluas pasar ke luar negeri.
Jika ekspansi berjalan baik, perusahaan diharapkan mampu memenuhi kewajiban membayar kupon dan mengembalikan pokok investasi sesuai perjanjian.
. . .
Istilah-Istilah Penting dalam Obligasi yang Wajib Dipahami
Sebelum membeli obligasi, ada beberapa istilah yang hampir pasti akan Anda temui.
Memahami istilah-istilah ini akan membuat Anda lebih percaya diri saat membaca informasi mengenai suatu obligasi.
1. Kupon (Coupon)
Kupon adalah imbal hasil atau bunga yang dibayarkan kepada pemegang obligasi.
Besarnya kupon biasanya dinyatakan dalam persentase per tahun.
Misalnya:
- Nilai obligasi: Rp1.000.000
- Kupon: 6% per tahun
Artinya:
Anda berhak memperoleh imbal hasil sebesar Rp60.000 per tahun, sesuai mekanisme pembayaran yang ditetapkan.
. . .
2. Nilai Nominal (Face Value)
Nilai nominal adalah nilai pokok obligasi yang akan dikembalikan saat jatuh tempo.
Misalnya Anda membeli obligasi senilai Rp1 juta.
Ketika jatuh tempo nanti, nilai pokok sebesar Rp1 juta tersebut akan dikembalikan, terlepas dari kupon yang sudah Anda terima selama masa investasi.
. . .
3. Tenor
Tenor adalah jangka waktu investasi obligasi.
Misal: 2 tahun, 3 tahun ,5 tahun, 10 tahun, bahkan hingga 30 tahun.
Semakin panjang tenor, biasanya semakin besar risiko perubahan harga obligasi apabila dijual sebelum jatuh tempo.
. . .
4. Jatuh Tempo (Maturity)
Jatuh tempo adalah tanggal berakhirnya obligasi.
Pada tanggal tersebut, penerbit akan mengembalikan pokok investasi kepada investor sesuai ketentuan yang berlaku.
Karena itu, sebelum membeli obligasi, pastikan Anda mengetahui kapan dana tersebut akan kembali agar sesuai dengan tujuan keuangan Anda.
. . .
5. Penerbit (Issuer)
Penerbit adalah pihak yang mengeluarkan obligasi.
Penerbit bisa berupa:
- Pemerintah Indonesia.
- Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
- Perusahaan swasta.
- Lembaga tertentu yang memenuhi persyaratan penerbitan obligasi.
Mengenali siapa penerbitnya penting karena berkaitan dengan tingkat risiko investasi.
. . .
6. Yield
Selain kupon, Anda juga akan sering mendengar istilah yield.
Banyak pemula mengira kupon dan yield adalah hal yang sama. Padahal, keduanya memiliki makna yang berbeda.
Kupon adalah imbal hasil yang ditetapkan saat obligasi diterbitkan,
sedangkan
Yield menggambarkan tingkat keuntungan yang diperoleh investor berdasarkan harga beli obligasi saat ini.
Karena harga obligasi di pasar dapat berubah, nilai yield juga bisa berubah.
Tenang, pembahasan mengenai cara menghitung yield akan kita bahas lebih mendalam pada bagian berikutnya agar lebih mudah dipahami.
Sampai di sini, Anda sudah memahami fondasi utama tentang obligasi, mulai dari pengertiannya, cara kerja, alasan obligasi diterbitkan, hingga berbagai istilah penting yang sering digunakan.
Bekal ini akan memudahkan Anda memahami pembahasan selanjutnya yang lebih praktis.
. . .
Pada Bagian 2, kita akan membahas jenis-jenis obligasi di Indonesia, perbedaan obligasi dengan saham, deposito, dan reksa dana, keuntungan serta risiko investasi obligasi, lengkap dengan contoh perhitungan keuntungan menggunakan angka sederhana.

